Oleh: Danny Prijadi | Minggu, 11 Januari 2009

Jangan suka menyalahkan orang lain


BE 100%

Di akhir tahun lalu, saya berkotbah dgn tema resolusi tahun baru. Kini kita sudah memasuki tahun baru itu. Apakah kita masih setia dengan resolusi kita? Ya? Bagus! Tidak? Apa alasannya? Seringkali kita gagal melakukan apa yang menjadi tekad kita karena kecenderungan kita untuk menyalahkan orang lain atau sikon jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai yang kita inginkan.

Mau bukti? “Saya tidak bisa jadi dokter karena biaya kuliah mahal dan saya anak orang miskin.”, “Saya tidak naik tingkat karena dosen saya sentimen terhadap saya.”, “Saya masih melajang sampai saat karena tidak ada orang yang cocok dengan saya.”, “Saya menjadi pengangguran bukan karena saya malas, tetapi tidak ada lowongan pekerjaan bagi saya.” Apakahsaya masih harus memperpanjang daftar ini?

Jika kita menelisik jauh ke relung hati kita yang paling dalam, kita harus mengakui bahwa sebagian besar kegagalan kita karena diri kita sendiri, bukan orang-orang di luar kita atau sikon disekitar kita. Itulah sebabnya saya setuju dengan pendapat filsuf bisnis nomer satu Amerika Jim Rohn yang berkata, “Anda harus bertanggungjawab atas kehidupan Anda. Anda tidak bisa mengubah diri keadaan, musim, atau angin, tetapi bisa mengubah diri Anda sendiri.”

Saya beri contoh. Suatu hari Minggu, isalnya, anda sedang sarapan di meja makan dan bersiap untuk ke gereja. Tanpa disengaja, anak Anda menjatuhkan sendoknya ke piring yang penuh dengan saos tomat. Sekejap saja baju Anda ternoda oleh saos merah menyala itu. Anda bentak anak Anda. Dia menangis dan meninggalkan meja makan tanpa menyelesaikan makan paginya. Istri andaberusaha membujuk anak itu untuk meneruskan makannya. Akibatnya, waktu untuk ke gereja mepet. Karena masih jengkel, Anda mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba dari sebuah gang muncul seorang penjual sate dan Anda tidak sempat menginjak rem, sehingga rombong sate orang itu terlanggar. Anda harus membayar ganti rugi dan anda terlambat datang ke gereja.

Mari kita ganti skenarionya. Anda sarapan pagi dan anak anda menjatuhkan sendok ke piring saos. anda jengkel, tetapi anda memilih untuk tetap tenang. Anda masuk ke kamar, ganti baju dan meneruskan sarapan sambil berkata. “Lain kali hati-hati ya Nak!” Anak anda tersenyum dan berkata “Sorry ya Pa” Anda berangkat ke gereja dengan hari yang lega.

Peristiwa yang sama bisa berakhir dengan berbeda. Dimana letak perbedaannya? Dari reaksi kita atas ‘kecelakaan kecil’ di atas meja makan. Di dalam kehidupan kita di muka bumi ini, aksi dan reaksi itu terus-menerus terjadi setiap saat. Reaksi kita terhadap aksi itulah yang menentukan berhasil tidaknya hidup kita.

Sayangnya, malangnya, seringkali kita menyadari kesalahan reaksi kita terhadap suatu peristiwa setelah nasi menjadi bubur. Di dalam bukunya Just The Way I Am, Billy Graham pernah menceritakan perjumpaannya dengan John. F Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke 35 itu suatu kali sarapan pagi bersama “Penginjil Semilyar Umat” ini. Selesai breakfast, Kennedy meminta Billy Graham, singgah sebentar di Gedung Putih karena ada urusan rohani yang ingin dia bahas. Karena flu, Billy Graham menolak halus. “Toh kita masih akan bertemu lagi,” ujarnya.

Sejarah bicara berbeda. Pertemuan itu tidak pernah terjadi karena Kennedy mati dibunuh. Billy Graham menyesali sikapnya dulu. Pada tahun baru ini, marilah kita seperti iklan sebuah minuman energi Be 100%. Kita harus bertanggung jawab atas hidup kita sendiri dan tidak menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan. Mari minta Tuhan memberkati kita agar melalui tahun ini bersama-Nya! (Xavier)

Sumber dari warta mingguan Gereja Happy Family Center


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: