Oleh: Danny Prijadi | Selasa, 10 Februari 2009

Rupiah Melemah, Pembayaran Utang Melonjak


JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar AS, yang diwujudkan dalam perubahan asumsi APBN 2009, dipastikan berdampak pada pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri. Dalam perubahan yang diusulkan oleh pemerintah, nilai tukar rupiah direvisi menjadi Rp 11.000 per USD dari semula Rp 9.400 per USD.

”Naiknya asumsi nilai tukar dari Rp 9.400 ke Rp 11.000 memberikan tambahan sekitar Rp 1.600 atau sekitar 17,02 persen,” kata Wakil Ketua Panitia Anggaran (Panggar) DPR Harry Azhar Azis kemarin (9/2).

Dalam APBN 2009, dengan tingkat kurs rupiah Rp 9.400 per USD, alokasi pembayaran bunga utang mencapai Rp 32,2 triliun. Sedangkan cicilan pokok utang luar negeri Rp 61,6 triliun. Dengan pelemahan nilai tukar rupiah 17,02 persen, pembayaran bunga utang naik menjadi Rp 37,97 triliun dan cicilan pokok utang luar negeri menjadi Rp 71,46 triliun.

”Itu kalau beban utang terkait dengan dolar AS. Tapi, kan tidak semuanya dolar, ada juga yen dan euro. Posisi ini tidak pernah dijelaskan pemerintah ke DPR,” tutur Harry.

Menurut dia, pemerintah tidak pernah transparan soal perhitungan beban utang. Karena itu, parlemen akan mempertanyakan dampak perubahan asumsi nilai tukar atas pembayaran bunga utang. ”Kalau dipatok agak lebih rendah, ada dorongan dari fiskal dan moneter,” ujar Harry.

Sebelumnya Komisi Keuangan dan Perbankan DPR dan pemerintah menyepakati perubahan asumsi nilai tukar rupiah dari semula Rp 9.400 per USD menjadi Rp 11.000 per USD.

Harry menilai, level asumsi nilai tukar sangat bergantung pada kondisi perekonomian akibat krisis keuangan dunia. ”Jadi, itu bergantung pada seberapa besar dampak krisis,” katanya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda Swaray Goeltom berpendapat, asumsi nilai tukar Rp 11.000 per USD dalam usul perubahan APBN 2009 masih bisa dicapai. ”Untuk asumsi, kan rata-rata setahun. Kalau rata-rata Rp 11.000, masih achievable,” ucap Miranda.

Secara umum, bank sentral memperkirakan rata-rata nilai tukar tahun ini akan lebih stabil ketimbang 2008 dengan dinamika yang sangat dipengaruhi oleh beberapa hal. Prospek ekonomi global dan harga komoditas, berlanjutnya konsolidasi pasar keuangan, serta dinamika politik saat pemilu diperkirakan akan memengaruhi perkembangan kurs sepanjang 2009. Menghadapi dinamika itu, BI bertekad akan selalu menjaga volatilitas kurs dengan menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar valas.

Sumber: Jawapos


Responses

  1. investasi pasarvalas memang menjanjikan bos. main juga ke blog saya ya di http://infopasarvalas.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: