Oleh: Danny Prijadi | Rabu, 18 Februari 2009

Cegah Gigis, Stop Ngedot saat Tidur


KEBIASAAN mengedot saat tidur malam bisa berdampak pada kesehatan gigi bayi. Saat beranjak besar, si kecil rawan gigis atau rampant caries. Yakni, larutnya email gigi karena asam.

”Saat anak terbangun dari tidur malam lalu minum susu botol, susu tidak sepenuhnya masuk ke kerongkongan. Ada susu yang diam saja di mulut,” kata drg Wulandari Patria SpKGA.Sebagian susu, menurut dia, menempel di gigi. Bahkan, ada kemungkinan bahwa susu itu merendam seluruh gigi. Kondisi tersebut tidak menguntungkan. Sebab, sisa makanan atau minuman manis akan diuraikan menjadi asam. Zat itu melarutkan email gigi. Lama-lama gigi akan terkikis tanpa disadari. Sama seperti tembok, lama-kelamaan gigi akan berlubang bila tergenang air terus-menerus.

”Itulah yang membuat gigi jadi gigis,” lanjut dokter spesialis gigi anak tersebut. Kondisi itu diistilahkan dengan baby bottle syndrome atau nursing bottle caries (karies pada bayi akibat susu botol).

Karena itu, belakangan digalakkan kampanye agar orang tua tak memberi susu saat bayi tidur malam. Kebiasaan tersebut, lanjut Wulandari, sebaiknya dilakukan sejak bayi berusia enam bulan. ”Itu masalah kebiasaan. Sebelumnya, anak tidak minta minum susu ketika terbangun di sela tidur malam,” katanya. Jadi, orang tua harus mengubah kebiasaan tersebut agar tidak berlanjut.

Alumnus FKG Unair itu mengaku pernah berdiskusi dengan pasien yang punya bayi tentang upaya mengubah kebiasaan penyebab baby bottle syndrome. Ternyata, si pasien menolak menghentikan kebiasaan tersebut. Dia berdalih, gigi anaknya tak bermasalah.

”Saya bilang, bila tak bermasalah berarti struktur giginya kuat. Tapi, kita kan tidak pernah tahu, gigi anak kuat atau tidak,” tuturnya. Dia menambahkan, sebelum gigi anak jadi aus dan gigis, sebaiknya kebiasaan tersebut dihentikan.

Selain susu, ada beberapa makanan dan minuman yang diuraikan menjadi asam. Yang utama adalah makanan berkarbohidrat. Permen, salah satunya. Pemberian dot yang diolesi madu juga tak dianjurkan.

Wulandari menyatakan bahwa permen bukan pencetus utama gigis pada gigi anak. Sebelumnya, gigi anak pasti aus atau rusak. ”Jadi, permen adalah trigger, pemicu,” ucapnya.

Dia menjelaskan, awal gejala gigis adalah gigi bewarna kuning. Lama-lama gigi rusak, berlubang, dan akhirnya gigis. Gigis bisa terjadi di gigi depan atau belakang. Biasanya, karies pada gigi depan dapat berhenti (caries arrest). Namun, umumnya gigis berlanjut.

Pada gigi belakang, karies akan melanjut dan mengakibatkan saraf gigi rusak. Kerusakan itu awalnya mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Tapi, jika saraf telah mati, gigi tidak terasa sakit sama sekali.

Gigis juga bisa menurunkan nafsu makan anak. Sebab, gigi sakit saat mengunyah. Bahkan, gigis bisa juga mengakibatkan abses (bengkak dan bernanah) pada gusi di daerah akar gigi. Jika terjadi abses, anak akan demam dan sakit gigi luar biasa. Abses juga dapat melanjut ke jaringan lunak sekitar mata atau sekitar leher. Dampak lain, pertumbuhan calon gigi pengganti terganggu.

Jika ditangani dengan baik, misalnya saluran akar dirawat, gigis tidak akan memengaruhi gigi asli (gigi permanen) yang akan tumbuh. ”Sebaiknya, konsultasi intensif ke dokter gigi anak,” tegas Wulandari.

Sumber: Jawapos


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: