Oleh: Danny Prijadi | Senin, 23 Februari 2009

Anak suka membantah


Dear Bu Maria. Anak pertama saya, laki-laki, saat ini berusia 3,5 tahun. Dia sudah pintar bicara dan membantah. Apa pun yang saya katakan selalu dilakukan sebaliknya. Misalnya, jika saya melarang naik kursi, dia malah melompat-lompat di atasnya. Yang menjengkelkan, sebulan terakhir dia sulit sekali diminta mandi dan menggosok gigi.

Padahal, sebelumnya dia malah suka main air. Bahkan, mandi tidak selesai-selesai. Dia juga sering main odol/sabun. Kalau saya gendong keluar dari kamar mandi, dia berteriak dan menangis. Kok, sekarang dia malah tidak mau mandi dan gosok gigi ya, Bu? Saya bingung menghadapinya. Apakah anak saya berperilaku menyimpang, Bu? Terima kasih.

Ibu DD, Sby

Salam manis, Bu. Pengalaman mengasuh anak pertama memang bermacam-macam. Ada yang merasa takjub, kesulitan, biasa saja, atau kebingungan seperti yang Ibu alami. Bersyukurlah, putra Ibu sudah pintar berceloteh. Sebab, akhir-akhir ini sebagian anak terlambat mengembangkan kemampuan berkomunikasi.

Ada tahap tertentu yang kadang kurang dipahami orang tua. Termasuk “fase membantah” yang biasa terjadi pada anak berusia 3-5 tahun. Pada masa tersebut, anak sedang berproses membentuk emosi dan norma. Itu disertai rasa ingin tahu yang besar.

Akibatnya, anak cenderung melakukan kebalikan apa yang kita katakan. Jika Ibu ingin mengoreksi perilaku yang kurang tepat, coba hindari kata “jangan”. Ibu bisa awali dengan “kalau”. Misalnya, “Kalau adik naik kursi, nanti jatuh lho. Itu juga tidak sopan.”

Kalau anak memegang pisau, jangan berteriak atau menarik pisau tersebut. Tindakan tersebut membuat anak kaget dan makin ingin memainkan pisau. Lebih baik Ibu tunjukkan bagian pisau yang tajam. Lalu, katakan bahwa pisau berfungsi untuk memotong sesuatu, bukan mainan. Kalau terkena pisau, rasanya sakit dan bisa berdarah. Setelah anak tahu tentang pisau, yakinlah Bu, dia tak akan merebut pisau Ibu lagi. Demikian juga dengan kasus lain.

Perilaku putra Ibu wajar. Hanya, kita tidak paham cara menanganinya sehingga sering jengkel. Saat mandi, banyak sensasi yang dirasakan anak. Misalnya, dingin/hangatnya air, licinnya sabun, hingga busa odol.

Rasa ingin tahu itu yang membuat anak betah berlama-lama di kamar mandi. Orang dewasa sering menyimpulkan bahwa anak main air dan sulit diatur. Orang tua tidak memberikan aturan yang jelas atau toleransi. Orang tua segera menggendongnya tanpa kompromi.

Itu membuat anak merasa bahwa mandi dan sikat gigi menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan dan berakhir dengan pemogokan. Hal tersebut tidak perlu terjadi seandainya Ibu mengajak si kecil berkomunikasi. Kan, anak sudah bisa diajak mengobrol seputar alasan mengapa dia suka mandi berlama-lama dan bermain odol.

Setelah anak mengungkapkan keinginannya, berusahalah Ibu pahami. Berikan toleransi waktu atau buat kompromi. Misalnya, “Adik teruskan mandinya. Lima menit lagi harus selesai, ya.” Kalau perlu, sambil membunyikan jam weker. Dengan demikian, anak belajar berkomitmen dan konsisten.

Setelah lima menit dan bel berbunyi, Ibu ingatkan bahwa waktunya sudah habis. Mintalah anak mengakhiri mandi dengan pujian bahwa tubuhnya sudah harum dan giginya sudah bersih. Anak akan dengan sukarela keluar dari kamar mandi. Demikan seterusnya.

Nah, karena si kecil masih mogok, coba Ibu bangkitkan kembali rasa sukanya dengan mengatakan hal-hal positf tentang mandi. Misalnya, “Adik boleh mandi sambil bawa gayung kecil. Nanti adik pakai gayung sendiri, ya.” Dengan pehamanan bahwa mandi merupakan kebutuhan dan bermanfaat, lambat laun anak akan menjadikan kegiatan mandi sebagai bagian dari hal yang menyenangkan. Berikan kebebasan untuk mengekspresikan diri agar anak bisa belajar menikmati proses kehidupan. (*)

Maria Farida Kurniawati SPsi

Psikolog Yayasan Baby Smile School

Sumber: Jawapos



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: