Oleh: Danny Prijadi | Kamis, 5 Maret 2009

BI Rate Jadi 7,75 Persen, Moneter Kian Longgar


JAKARTA – Bank Indonesia (BI) semakin agresif melonggarkan kebijakan moneter. Selama tiga bulan berturut-turut, bank sentral telah menurunkan BI rate 0,5 persen atau 50 basis poin (bps). Dalam rapat dewan gubernur BI kemarin, suku bunga acuan itu dikoreksi dari 8,25 persen menjadi 7,75 persen.

Perkembangan BI Rate

Periode

Suku Bunga (%)

April 2008 8.00
Mei 2008 8.25
Juni 2008 8.50
Juli 2008 8.75
Agustus 2008 9.00
September 2008 9.25
Oktober 2008 9.50
November 2008 9.50
Desember 2008 9.25
January 2009 8.75
February 2009 8.25
Maret 2009 7.75

Gubernur BI Boediono mengatakan, penurunan BI rate tersebut telah mempertimbangkan penyesuaian terbaik saat ini. Dia berharap perbankan segera menurunkan suku bunga.

”Itu memerlukan waktu karena ada lag. Tapi, tentunya, kita harus memberikan penjelasan kepada perbankan,” kata Boediono di Jakarta kemarin (4/3). Dia menambahkan, saat ini bank sentral telah berkomunikasi dengan perbankan, khususnya bank besar, untuk mendorong penurunan suku bunga.

Dalam keterangan resminya, BI menilai kondisi perbankan nasional sampai saat ini cukup stabil. Itu tecermin dari perkembangan berbagai indikator keuangan dan kesehatan bank. Kondisi likuiditas perbankan, termasuk aliran likuiditas dalam pasar uang antarbank, mulai membaik dibanding beberapa bulan lalu.

Meski kondisi masih cukup stabil, penyaluran kredit menunjukkan penurunan 2,1 persen pada Januari 2009. Ini disebabkan melemahnya perekonomian dan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit. Walau begitu, BI tetap mencermati kecenderungan meningkatnya risiko kredit yang berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalahh (NPL) dalam industri perbankan.

BI memperkirakan perekonomian 2009 akan tumbuh 4 persen dengan downside risk yang cukup besar. Terutama, apabila pertumbuhan ekonomi global terus memburuk lebih dari yang diperkirakan. Indikasi perlambatan perekonomian itu juga tecermin dari melambatnya konsumsi rumah tangga akibat turunnya daya beli masyarakat. Tapi, penurunan tersebut juga bisa mengurangi tekanan inflasi ke depan hingga cenderung mendekati batas bawah kisaran 5-7 persen.

Di sisi lain, penurunan kinerja ekspor telah menekan neraca pembayaran Indonesia meski masih berada dalam batas aman. Cadangan devisa saat ini berada di posisi USD 50,56 miliar atau masih mampu memenuhi 5,4 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah cadangan devisa itu turun USD 300 juta dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, cadangan devisa diperkirakan bertambah dengan masuknya dana hasil penjualan obligasi internasional (global bond) pemerintah USD 3 miliar.

Di tempat terpisah, Ketua Komite Tetap bidang Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan, perlambatan pertumbuhan kredit disebabkan suku bunga masih tinggi di tengah kelesuan ekonomi. Setelah BI rate diturunkan ke level 7,75 persen, dia melihat belum ada jaminan bahwa suku bunga bank akan turun.

“Masalahnya adalah perbankan masih diselimuti masalah likuiditas yang kering. Artinya, penurunan BI rate belum tentu mendongkrak permintaan kredit,” kata Bambang. Dia berharap stimulus fiskal 2009 segera diimplementasikan. “Realisasi proyek-proyek dalam stimulus itu bisa membantu memulihkan likuiditas rupiah di pasar,” katanya.

(sof/oki)

Sumber: Jawapos


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: