Oleh: Danny Prijadi | Rabu, 6 Mei 2009

Kembali Dipangkas, BI Rate Jadi 7,25 Persen


JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia kembali memangkas suku bunga acuan Bi Rate. Kali ini BI memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,25 persen.

“Setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan di dalam dan luar negeri, Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,25 persen,” demikian siaran pers Bank Indonesia, Selasa (5/5).

BI menilai, gambaran dan perkembangan ekonomi global yang membaik direspons secara positif seperti terlihat dari berbagai indikator keuangan, seperti indeks pasar saham dunia, dan spread premi risiko yang menurun tajam.

Hal ini, seperti disiarkan BI, mendorong kembalinya modal masuk ke emerging markets termasuk ke Indonesia, yang berdampak pada penguatan mata uang Rupiah, peningkatan indeks harga saham gabungan dan perbaikan yield surat utang negara. “Namun, Bank Indonesia mencermati bahwa perekonomian dunia diperkirakan masih mengalami kontraksi meskipun dengan laju yang melambat,” sebutnya lagi.

Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia 2009 masih akan berada pada kisaran 3-4 persen, didukung oleh permintaan domestik yang cukup baik, disertai kinerja ekspor yang lebih baik dari perkiraan semula.

Sementara itu, inflasi 2009 diperkirakan dapat mencapai batas bawah kisaran 5-7 persen. Adapun cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2009 meningkat mencapai 56,57 miliar dollar AS.

Sumber: Kompas
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali mengoreksi pedoman suku bunga perbankan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin (5/5). Forum bulanan yang salah satunya bertujuan untuk memutuskan kebijakan strategis moneter tersebut meneruskan kebijakan yang telah ditempuh bank sentral dalam tujuh bulan terakhir.

Posisi BI rate yang berada di level 7,25 persen tersebut merupakan posisi terendah dalam empat tahun terakhir sejak Juli 2005. Langkah tersebut dilakukan setelah melihat berbagai situasi perekonomian terkini.

Gubernur BI Boediono menjelaskan perkembangan kondisi perekonomian global terus mewarnai dinamika yang terjadi pada perekonomian domestik. “Keputusan tersebut (koreksi BI Rate) diharapkan dapat mendukung upaya menjaga gairah pada pertumbuhan ekonomi domestik dengan tetap menjaga kestabilan harga serta sistem keuangan dalam jangka menengah,” ujarnya kemarin (5/5).

“Boediono menjelaskan indikator persepsi risiko, seperti CDS (credit default swap) spread Indonesia, yang sempat melebar hingga 985 bps pada saat krisis global melanda, saat ini telah turun menjadi sekitar 403bps.

“Kondisi ini berdampak positif pada penguatan mata uang rupiah, peningkatan indeks harga saham gabungan, dan perbaikan yield Surat Utang Negara. Arus modal masuk juga memperkuat cadangan devisa Indonesia, yang mencapai USD 56,57 miliar atau dapat membiayai kebutuhan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” paparnya.

Di sisi lain, membaiknya indikator kinerja keuangan global yang lebih banyak didukung oleh faktor sentimen tersebut belum terefleksikan pada membaiknya perekonomian global.

Indikator kinerja perekonomian global masih terus merosot yang di negara-negara maju disertai dengan ketidakpastian akan pulihnya credit crunch. Dalam kondisi yang demikian, tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia diperkirakan masih berlanjut walaupun beberapa harga komoditas ekspor telah mengindikasikan peningkatan.

“Impor juga mengalami pelemahan seiring dengan melemahnya permintaan dalam negeri,” sebutnya.

Seiring dengan masih melemahnya perekonomian domestik, kecenderungan deflasi mitra dagang, serta membaiknya ketersediaan bahan makanan, tren penurunan inflasi secara tahunan masih terus berlanjut.

Di sektor keuangan dan moneter, sejumlah indikator seperti laju pertumbuhan uang beredar dan kredit mengkonfirmasi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Hasil stress test yang dilakukan BI mengindikasikan kondisi perbankan nasional secara umum relatif stabil. Berbagai indikator mendukung kondisi tersebut, antara lain modal perbankan secara nasional dan rasio kecukupan modal menunjukkan tren yang meningkat.

Rasio kecukupan modal masih cukup tinggi yakni 17,4 persen dengan non-performing loan (NPL) relatif masih terkendali, yaitu NPL Gross sebesar 4,5 persen dan NPL Net 1,9 persen. Likuiditas perbankan, termasuk aliran likuiditas dalam pasar uang antar bank, makin membaik seiring dengan pengurangan segmentasi dan meningkatnya Dana Pihak Ketiga (DPK)

Sumber: Jawapos


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: