Oleh: Danny Prijadi | Jumat, 12 Juni 2009

TV Tak Harus Berdampak Negatif


watchingTV

Bisa Juga Dimanfaatkan untuk Bantu Tumbuh Kembang Anak

BANYAK orang tua mengeluh, anak yang jadi malas bicara karena sering nonton televisi (TV). Hal itu sebetulnya tidak perlu terjadi. Bahkan, orang tua seharusnya bisa memanfaatkan media elektronik tersebut untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak.

”Saat asyik menonton acara TV, anak biasanya memang tak mau diganggu. Sekalipun sekadar bicara. Padahal, bicara menjadi parameter seberapa banyak anak menguasai kosakata,” kata dr Irwanto SpA.

Dampak lainnya adalah perubahan perilaku. Dokter dari Divisi Tumbuh Kembang Anak RSUD dr Soetomo itu menyatakan, dampak tersebut berawal dari peniruan anak terhadap tayangan TV.

Bila anak suka menonton film kartun yang menayangkan kekerasan, misalnya, dia bisa berperilaku sama seperti tokoh dalam acara itu. Apalagi, tokoh tersebut merupakan favorit anak. ”Di sinilah pentingnya pendampingan,” ujar Irwanto. Sesibuk apa pun, orang tua sebaiknya menyisihkan waktu untuk mendampingi anak menonton TV.

Bahkan, orang tua hendaknya bisa menggunakan TV sebagai media untuk membantu proses tumbuh kembang anak. Ada sarana audio visual di TV. Orang tua bisa mengoptimalkan panca indera anak dengan menggunakan media tersebut. Misalnya, memberi penjelasan tentang tokoh dan latar belakang cerita. Prinsipnya, merangsang anak agar mau berbincang-bincang ketika menonton TV. ”Itu akan meminimalisasi kemungkinan anak jadi malas bicara,” jelasnya.

Menurut Irwanto, orang tua juga bisa memanfaatkan acara TV kesukaan anak untuk menjelaskan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya, saat TV menayangkan adegan perkelahian, orang tua bisa minta anak tak melakukan hal itu. ”Orang tua juga bisa bilang, tayangan tersebut merupakan kisah fiktif yang tidak boleh dicontoh,” paparnya.

Dengan cara itu, diharapkan anak jadi mau bercerita tentang tayangan yang baru saja ditonton. Bahkan, mungkin, kosakata anak malah bertambah. ”Anak juga jadi tidak malas bicara,” ungkapnya. Stimulasi seperti itu, kata dia, harus dilakukan terus-menerus agar proses tumbuh kembang anak optimal. Terutama sebelum anak berusia lima tahun.

Sumber: Jawapos


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: